JARRAKPOSLAMPUNG – Kamis (01/08/2024) pagi, Gedung Serba Guna Universitas Lampung penuh dengan aura kebanggaan dan harapan baru. Di tengah derap langkah para akademisi, hari itu menjadi saksi pengukuhan Prof Syarief Makhya sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Kebijakan Publik.
Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, tak dapat menyembunyikan kebanggaannya saat menyampaikan berita ini.
“Dengan pengukuhan ini, Alhamdulillah Unila sudah mengukuhkan 120 Guru Besar,” katanya, menegaskan betapa besar pencapaian ini bagi universitas.
Tapi Lusmeilia tak berhenti di situ. Ia menyampaikan bahwa Unila tengah mempersiapkan 42 calon Guru Besar lainnya dengan target ambisius: memiliki 150 Guru Besar pada tahun 2024.
“Kita sedang memperjuangkan 42 calon Guru Besar. Kita menargetkan pada tahun 2024 ini Unila telah memiliki 150 Guru Besar,” tegasnya, dengan semangat yang menyala-nyala.
Ia berharap, pengukuhan Syarief Makhya akan menjadi inspirasi bagi akademisi lainnya untuk terus berjuang meraih gelar tertinggi.
Saat yang ditunggu pun tiba. Prof. Syarief Makhya maju ke podium dengan langkah mantap, menyampaikan orasi ilmiah berjudul ‘Dinamika Politik dan Kebijakan Publik’.
Dalam orasinya, Syarief membawa hadirin menyusuri lorong waktu, menelaah perubahan dua dekade terakhir sejak diberlakukannya Pilkada langsung.
Menurutnya, Pilkada sebagai proses politik lokal sangat mempengaruhi kebijakan publik yang dihasilkan.
“Pilkada adalah proses politik yang berimplikasi pada penguasaan sumber daya politik dan akan menentukan arah kebijakan publik di daerah,” ujarnya.
Ia menggambarkan paradoks yang menghantui proses pemerintahan daerah, di mana kekuasaan kepala daerah yang dominan sering kali menciptakan kebijakan yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan kepala daerah berikutnya.
Dengan nada tenang namun tegas, Syarief menjelaskan mengapa kebijakan yang dirancang untuk kesejahteraan masyarakat seringkali gagal di lapangan.
Dinamika politik, menurutnya, tidak hanya mempengaruhi pembentukan kebijakan, tetapi juga keberhasilan implementasinya.
“Dalam fenomena tersebut, saya mencoba membahas bagaimana dinamika politik mempengaruhi kebijakan publik dan mengapa seringkali kebijakan yang dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat gagal dalam implementasinya,” jelasnya.
Penelitiannya tidak hanya berfokus pada pengamatan, tetapi juga menganalisis bagaimana dinamika politik mempengaruhi pembuatan kebijakan di daerah dan mengevaluasi efektivitas kebijakan publik dalam mencapai tujuan-tujuannya.
Syarief berharap, kontribusinya melalui studi ini dapat membantu dalam pengembangan pemerintahan daerah yang lebih efektif.
“Tujuan penelitian ini juga untuk menganalisis bagaimana faktor dinamika politik mempengaruhi proses pembuatan kebijakan di daerah, mengevaluasi apakah kebijakan publik efektif dalam mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan, dan menganalisa kontribusi studi pemerintahan dalam mengembangkan pemerintahan daerah yang efektif,” tambahnya, menutup orasi dengan penuh harapan.
Hari itu, di Gedung Serba Guna Unila, bukan hanya gelar Guru Besar yang diberikan. Tapi juga semangat, inspirasi, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi dunia akademik dan masyarakat luas. (sandika/red)
